Sto. Martinus dari Finojosa

17 September

Martinus lahir sekitar tahun 1140 di Sotoca de Tajo, Castilla, Spanyol. Ia adalah putera dari Miguel Munoz de Hinojosa, seorang bangsawan. Ketia berusia sekitar duapuluh tahun, Martinus bergabung dengan Ordo Sistersian di biara Cantavos. Beberapa tahun kemudian, Martinus ditunjuk sebagai abbas biara sampai dengan ia ditunjuk menjadi Uskup Siguenza pada sekitar tahun 1186. Pada tahun 1192, Martinus mengundurkan diri dari jabatannya untuk dapat kembali hidup membiara. Martinus diyakini juga mendirikan biara di Huerta. Martinus dari Finojosa, O.Cist meninggal dunia pada 16 September 1213 di Sotoca, Spanyol dan dimakamkan di biara St. Maria de Huerta.


dari sumber http://www.catholic.org/ dan http://es.wikipedia.org/

Sta. Hildegardis

17 September
Hildegardis lahir pada tahun 1098 di Bockelheim, Jerman. Ia adalah puteri dari Hildebert, seorang prajurit, dan Mechtildis/Mathilda, yang merupakan keturunan bangsawan. Hildegardis sejak kecil sudah dipersembahkan kepada Gereja dan ditempatkan pada sebuah biara Benediktin untuk belajar. Ia diajar oleh Jutta dan mampu membaca dan menyanyikan Mazmur dalam bahasa Latin, tetapi ia tidak mampu menulis. Selain itu Hildegardis juga diberikan oleh Tuhan karunia pengelihatan sejak muda. Hildegardis kemudian menjadi biarawati Benediktin, dan setelah kematian Jutta pada 1136, Hildegardis menggantikannya sebagai superior biara. Banyak aspiran yang mendaftar pada masa kepemimpinannya. Hildegardis kemudian memutuskan untuk pindah ke tempat lain, yaitu di Rupertsburg, dekat Bingen. Dalam pengelihatannya, Tuhan meminta Hildegardis untuk menyebarkan pesan-pesannya. Setelah berkonsultasi dengan Bapa Pengakuannya, Hildegardis menuliskan pesan-pesan yang ia peroleh melalui pengelihatannya, dibantu oleh seorang biarawan, dan juga biarawati-biarawati lainnya. Setelah itu, tulisan itu diberikan kepada Uskup Mainz, Henry, dan mendapat pengakuan sebagai karya yang berasal dari Allah. Tidak sampai disitu, karya ini kemudian juga diberikan kepada Paus Eugenius III, dan setelah dilakukan penelitian, karya ini diberi imprimatur, dan dikenal dengan judul Scivias. Sejak saat itu Hildegardis dikenal banyak orang, dan biaranya sering dikunjungi, baik para bangsawan, maupun para Uskup, termasuk juga Sta. Elizabeth dari Schonau. Selain Scivias, Hildegardis juga menuliskan banyak karya lain terutama dalam bidang musik dan puisi. Pada tahun 1165, Hildegardis mendirikan biara di Eibingen. Ketika skisma Geraja Barat dan Timur terjadi, Hildegardis juga membantu umat yang kebingungan, dan melakukan perlawanan terhadap sekte Cathari. Diakhir masa hidupnya, Hildegardis mendapat masalah, terkait pemakaman seorang yang terekskomunikasi pada biaranya. Otoritas Gereja di Mainz memintanya untuk menyingkirkan jasad orang itu, tetapi Hildegardis menolaknya dengan alasan, bahwa oraang itu bertobat diakhir hidupnya. Atas keputusannya, biara Hildegardis mendapat hukuman interdik, yang juga diakui Uskup Mainz. Hildegardis kemudian berhasil membuat hukuman ini dicabut sebelum ia meninggal. Hildegardis dari Bingen, O.S.B., meninggal dunia pada 17 September 1179 di Rupertsburg, Bingen. Banyak mukjizat terjadi melalui perantaraannya, dan namanya masuk dalam Martyrologium Romanum, walaupun Hildegardis tidak pernah dikanonisasi secara resmi. Pada 10 Mei 2012, ia dikanonisasi secara resmi Paus Benediktus XVI dan pada 7 Oktober 2012 ia dinyatakan sebagai Pujangga Gereja.


Sto. Siprianus

16 September

Thascius Caecilius Siprianus lahir pada sekitar tahun 200 di Kartago, Tunisia. Ia adalah putera seorang senator kaya penganut Paganisme. Dimasa mudanya, Siprianus belajar retorika. Ia mencoba mengenal iman Kristen melalui Tertullianus dan terus mencari kebenaran. Siprianus kemudian menemukan kebenaran dalam iman Kristen melalui bimbingan seorang imam, Sto. Caecilius dari Kartago. Siprianus dibaptis sekitar tahun 246 dan tidak lama kemudian, ia juga ditahbiskan menjadi imam. Siprianus kemudian menjual hartanya dan membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Ketika Uskup Kartago, Donatus meninggal dunia, Siprianus ditunjuk sebagai Uskup menggantikannya, pada sekitar tahun 248. Pada tahun 250, muncul penganiayaan umat Kristen oleh Kaisar Decian, dan Siprianus terpaska melarikan diri karena nyawanya terancam. Ia menyerahkan tugas-tugasnya sebagai uskup kepada beberapa imam. Pada saat ditinggal oleh Siprianus, masalah juga muncul terkait Felicissimus, seorang diakon, yang kemudian diekskomunikasi bersama pengikutnya oleh Siprianus. Dalam pelariannya, Siprianus tetap memberikan penguatan kepada umatnya dan menjual harta Gereja untuk membantu umatnya. Dampak dari menganiayaan ini, ada banyak umat awam dan rohaniwan yang berapostasi. Siprianus memilih untuk memberikan pengampunan kepada mereka setelah melalui penyelidikan dan juga melakukan penitensi. Walaupun mendapat dukungan, ada juga kelompok yang menentang tindakan Siprianus. Hal ini juga berlanjut ketika Paus Sto. Kornelius terpilih dan muncul antipaus Novatianus. Novatianus mengajarkan ajaran sesat Novatianisme yang mengajarkan mereka yang berapostasi tidak dapat diterima kembali menjadi seorang Kristen. Siprianus mendukung Paus Sto. Kornelius dan melawan antipaus Novatianus dan juga pengikut-pengikutnya. Perbedaan pendapat juga dialami Siprianus dengan Paus Sto. Stefanus I, terkait dengan pembaptisan kembali orang-orang yang telah dibaptis oleh penganut ajaran sesat. Siprianus mengikuti tradisi yang telah berlangsung di Afrika sejak masa Tertullianus, dan pada masa itu juga banyak berkembang ajaran sesat yang tidak mengakui dogma Tritunggal, sehingga forma pembaptisan menjadi tidak sah. Diyakini juga masalah ini terjadi karena masalah komunikasi. Siprianus juga membuat banyak tulisan, diantaranya ia menyerukan persatuan umat Kristen. Pada masa Kekaisaran Valerian, terjadi kembali penganiayaan terhadap umat Kristen. Siprianus ditangkap dan diinterogasi. Pada tahun 257, Siprianus diasingkan ke Curubis, dan ia ditemani dengan setia oleh diakonnya, Pontius, yang juga menuliskan kisah hidupnya. Siprianus kemudian dibawa kembali ke Kartago, untuk diadili dan ia dijatuhi hukuman mati. Siprianus dari Kartago meninggal dunia sebagai martir pada 14 September 258 di Kartago, Tunisia.


dari sumber:
http://www.newadvent.org/
http://www.catholic.org/
http://saints.sqpn.com/
http://en.wikipedia.org/

Kalender Orang Kudus