Bto. Yohanes Maria dari Salib

22 September

Mariano Garcia Mendez lahir pada 25 September 1891 di San Esteban de los Patos, Avila, Spanyol. Sejak kecil, Mariano sudah berkeinginan untuk menjadi seorang Imam. Ia bergabung dengan seminari Diosesan di Avila, dan sempat ingin bergabung dengan Ordo Pengkotbah, tetapi kesehatannya yang buruk menghalanginya. Pada 18 maret 1916, Mariano ditahbiskan sebagai imam dan melayani di sebuah desa kecil yang miskin. Mariano kembali beusaha untuk mencari kehidupan rohani yang lebih baik, sampai ia kemudian bertemu dengan imam kongregasi Hati Kudus Yesus. Mariano kemudian memasuki masa novisiat di Novelda, Alicante. Ia mengikrarkan kaulnya pada 31 Oktober 1926, dan mengambil nama Juan Maria de la Cruz. Yohanes kemudian bertugas sebagai guru. Ia juga mulai mencari dana pada tahun 1929 dan juga membujuk anak-anak untuk bergabung dengan seminari kongregasi Hati Kudus Yesus. Ketika terjadi penganiayaan terhadap umat Katolik dalam perang saudara Spanyol, Yohanes memilih untuk mengungsi ke Valencia, dengan harapan tidak ada yang mengenalinya. Ketika melihat sebuah gereja yang dirusak dan dijarah, Yohanes melakukan protes, sehingga ia ditangkap dan dipenjara. Di dalam penjara, Yohanes memberikan perhatian kepada tahanan lain. Ia juga tetap melakukan kewajiban seperti berdoa Ibadat Harian, atau Rosario. Yohanes Maria dari Salib, S.C.J., meninggal dunia pada 23/24 Agustus 1936 di Valencia, Spanyol, dan menjadi martir pertama kongregasi Hati Kudus Yesus. Pada 11 Maret 2001, ia dibeatifikasi oleh Paus Sto. Yohanes Paulus II.


dari sumber http://www.sacredheartusa.org/http://www.scj.org/http://scjphil.org/, dan http://www.gcatholic.org/

Bto. Henrikus Saiz

22 September

Enrique Sáiz Aparicio lahir pada 1 Desember 1889 di Ubierna, Burgos, Spanyol. Henrikus memutuskan untuk bergabung dengan Kongregasi Salesian, dan mengikrarkan kaul pertamanya pada tahun 1909 di Barcelona-Sarria. Henrikus ditahbiskan sebagai imam pada tahun 1918. Henrikus ditunjuk sebagai direktur pertama kolose di Salamanca, kemudian menjadi rektor aspiran di Carabanchel, Alto, Madrid. Ketika terjadi perang saudara Spanyol yang menganiaya umat Katolik, Henrikus berusaha untuk melindungi para aspiran. Pada 20 Juli 1936, biaranya diserang. Dengan berani ia menyerahkan diri dan meminta supaya para tentara melepaskan para aspiran. Henrikus Saiz, S.D.B., meninggal dunia pada 2 Oktober 1936 di Madrid, Spanyol. Pada 28 Oktober 2007, ia dibeatifikasi oleh Paus Benediktus XVI, yang diwakili oleh Kardinal Jose Saraiva Martins.


Bto. Yusuf Calasanz Marques

22 September

Jose Calasanz Marques lahir pada 23 November 1872 di Azanuy, Huesca, Spanyol. Pada sekitar tahun 1886, Yusuf melihat Sto. Yohanes Bosko saat kelelahan dan menderita. Yusuf memutuskan untuk bergabung dengan Kongregasi Salesian pada tahun 1890, dan ditahbiskan sebagai imam lima tahun kemudian. Yusuf bertugas sebagai sekretaris Bto. Filipus Rinaldi, dan kemudian menjadi superior untuk provinsi Peru-Bolivia. Yusuf kembali ke Spanyol dan ditunjuk sebagai Provinsial Barcelona-Valencia. Yusuf dikenal sebagai pekerja keras dan memiliki perhatian terhadap keselamatan manusia. Ketika terjadi perang saudara di Spanyol, Yusuf ditangkap bersama para Salesian, ketika melakukan retreat di Valencia. Dalam perjalanan, Yusuf dibunuh dengan ditembak. Yusuf Calasanz Marques, S.D.B., meninggal dunia pada 29 Juli 1936 di Valencia, Spanyol. Pada 11 Maret 2001, ia dibeatifikasi oleh Paus Sto. Yohanes Paulus II.


dari sumber http://www.salesianmissions.org/, http://www.sdb.org/, http://www.gcatholic.org/, dan http://theblackcordelias.wordpress.com/

Minggu Biasa XXV

Tahun C

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang. Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi. Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jika kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan harta sejati kepadamu? Dan jika kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain; atau ia akan setia kepada yang seorang, dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
 
 
dari sumber http://renunganpagi.blogspot.com/, dan Alkitab Deuterokanonika, LAI-LBI

Sto. Ignatius dari Santhia

22 September

Lorenzo Maurizio Belvisotti lahir pada 5 Juni 1686 di Santhia, Vercelli, Italia. Ia adalah putera sebauh keluarga kelas atas. Lorenzo menerima pendidikan dari seorang imam yang baik, yang menginspirasinya dan membantunya dalam menjawab panggilannya untuk masuk seminari. Pada 1710 ia ditahbiskan sebagai imam diosesan di Vercelli. Setelah enam tahun menjadi imam, Lorenzo bergabuang dengan Ordo Fransiskan Kapusin. Pada saat itu Lorenzo dikritik oleh keluarganya dan paroki yang tidak mengerti keputusannya. Dalam Ordo Kapusin, Lorenzo akhirnya mendapati kedamaian batin yang ia cari dalam hidup kesederhanaan. Pada tanggal 24 Mei 1717, ia mengikrarkan kaul religiusnya, dan memperoleh nama Ignatius. Ignatius memulai perjalanan rohaninya dengan dikirim dari satu biara ke biara lain di wilayah Savoy, Italia. Dia senang dipindahkan karena ketaatannya dan  kehormatan untuk dapat melayani saudara-saudaranya. Pada awalnya, Ignatius ditempatkan di biara di Saluzzo, dan bertugas sebagai sakristan. Ia kemudian dipindahkan ke novisiat di Chieri, dan bertugas sebagai asisten pembimbing para novis. Pada 1727, Ignatius dikirim ke biara di Turin-Monte, dengan tugas sebagi sakristan dan pembimbing rohani. Sebagai pembimbing rohani, banyak orang mencarinya, mulai dari kaum religius, imam, umat beriman dan orang-orang berdosa yang paling berdosa untuk mengaku dosa, dan untuk menerima bimbingan rohani. Pada 1731, Ignatius dikirim ke biara Modovi, dimana ia menjadi pembimbing para novis dan vikaris biara. Pada 1744 Ignatius harus meninggalkan novisiat dan pergi ke Turin karena ia menderita penyakit mata yang misterius yang membawanya hampir pada kebutaan. Ignatius dapat sembuh dari penyakitnya sehingga ia dapat kemabli pada aktivitas tugasnya. Pada 1743-1746, perang terjadi di Piedmont, Raja Sardinia-Piedmonte, Charles Emmanuel III meminta Kapusin untuk menyediakan tenaga medis dan spiritual untuk rumah-rumah sakit. Ignatius ditunjuk sebagai pastor kepala dan menawarkan bantuannya untuk dua tahun di rumah sakit Asti, Vinovo dan Alessandria, memberikan contoh tidak kenal lelah dan kesalehan, melayani dan menyembuhkan dalam semangat kasih injili yang sejati. Ketika Piedmonte dalam keadaan damai kembali, ia kembali sekali lagi ke biara di Turin-Monte dimana ia akan menghabiskan 24 tahun sebagai pembimbing spiritual dan bapa pengakuan. Ia mengunjungi orang sakit, dan meminta uang dan makanan bagi yang membutuhkan. Ignatius dari Santhia O.F.M.Cap., meninggal dunia pada 21 September 1770 di Turin-Monte, Italia. Pada 17 April 1966 Ia dibeatifikasi oleh Paus Bto. Paulus VI dan pada 19  Mei 2002, ia dikanonisasi oleh Paus Sto. Yohanes Paulus II.

Kalender Orang Kudus