Minggu Paskah VI

Tahun B

Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikian juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Ini perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak lagi menyebut kamu hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya. Tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."


St. Yohanes dari Avila

10 Mei

Juan de Avila Jijon lahir pada 6 Januari 1499/1500 di Almodovar del Campo, Toledo, Castille, Spanyol. Ia adalah putera dari Alfonso de Avila dan Catherine Xixon, sebuah keluarga keturunan Yahudi yang telah menjadi Kristen. Ketika berusia empatbelas tahun, Yohanes dikirim untuk belajar Hukum di Universitas Salamanca. Satu tahun kemudian ia kembali ke rumahnya setelah merasakan panggilan Tuhan. Ia mempraktekan hidup saleh dan mengasingkan diri, sampai dengan seorang Fransiskan terkesan. Yohanes disarankan untuk belajar filsafat dan teologi di Universitas Alcala. Kematian orangtuanya membuat Yohanes mewarisi banyak harta, tetapi ia menjual semuanya dan membagikannya kepada orang miskin. Pada tahun 1526, Yohanes ditahbiskan sebagai imam, dan ia merayakan Ekaristi pertamanya di gereja dimana orangtuanya dimakamkan. Setelah itu Yohanes berkeinginan kuat untuk pergi ke Meksiko untuk menyebarkan Injil. Oleh sebab itu ia pergi ke Sevilla untuk mempersiapkan diri, tetapi seorang imam ditempat Yohanes tinggal bernama Hernando del Contreras sangat terkesan dengan kehidupan Yohanes, dan meminta kepada Uskup Sevilla, untuk menahannya. Yohanes diminta untuk menyebarkan Injil kembali di Andalusia, dimana kekuasaan Muslim baru saja berakhir. Setelah memikirkan dengan penuh pertimbangan, Yohanes setuju dan meninggalkan keinginannya pergi ke Amerika. Homili pertamanya membuat namanya dikenal, dan kebanyakan homilinya terkesan melakukan perlawanan terhadap orang-orang kaya dan berkuasa. Pada tahun 1532-1533, Yohanes ditahan oleh pihak inkuisisi karena dicurigai mengajarkan ajaran sesat. Saat ditahan ia tidak berhenti berkarya, bahkan menuliskan sebuah karyanya sampai ia dibebaskan dari segala tuduhan dan kembali berkarya ditengah umat. Yohanes berinkardinasi dengan Keuskupan Kordoba pada tahun 1535, dan mulai berhomili di Granada. Yohanes mendirikan beberapa kolose dan juga sebuah universitas dalam tujuannya melakuka reformasi terhadap kehidupan para rohaniwan di Spanyol. Yohanes menjadi pembimbing spiritual bagi banyak orang, diantaranya adalah St. Teresa dari Avila, St. Yohanes dari Salib, St. Fransiskus Borgia, St. Petrus dari Alcantara, dan lain-lain. Diakhir masa hidupnya, ia menyerahkan Universitas Bezza kepada Yesuit bahkan Yohanes berkeinginan untuk menjadi seorang Yesuit walaupun Tuhan tidak mengizinkannya. Ia menuliskan banyak surat diakhir hidupnya. Pada 10 Mei 1569, Yohanes dari Avila meninggal dunia di Montilla, Spanyol. Pada 4 April 1894 ia dibeatifikasi oleh Paus Leo XIII, dan pada 31 Mei 1970, ia dikanonisasi oleh Paus Bto. Paulus VI. Pada 20 Agustus 2011. Pada 7 Oktober 2012, ia dinyatakan sebagai Pujangga Gereja oleh Paus Benediktus XVI.


dari sumber http://saints.sqpn.com/, http://www.catholicculture.org/, http://www.catholic.org/, dan http://www.newadvent.org/

St. Bonifasius IV

8 Mei

Paus Bonifasius IV adalah Paus ke-67 Gereja Katolik yang menjadi Paus pada tahun 608-615. Bonifasius lahir sekitar tahun 550 di Valeria, Abruzzi, Italia. Ia adalah putera dari Yohanes, seorang dokter. Pada Kepausan St. Gregorius I, Bonifasius menjadi Diakon, dan juga bendahara. Bonifasius terpilih menjadi Paus pada akhir tahun 607 menggantikan Paus Bonifasius III, tetapi baru dapat diberkati pada 26 Agustus 608, setelah mendapat persetujuan Kaisar Phocas. Kaisar memberikan Paus Bonifasius IV Patheon, yang pada masa Kaisar Agrippa, digunakan untuk memberikan persembahan pada dewa-dewi Pagan. Paus mengubahnya menjadi gereja yang dipersembahkan kepada St. Perawan Maria Bunda Allah dan Para Martir. Banyak relikui para martir yang dipindahkan dari pemakaman-pemakaman menuju altar gereja ini. Paus juga menerima kunjungan Mellitus, Uskup pertama London. Paus memberikan dukungan untuk karya misi di Inggris dengan memberikan surat kepada Laurensius, Uskup Agung Canterbury, Raja Ethelbert, para klerus, dan para umat beriman. Paus Bonifasius IV sempat medapatkan teguran dari St. Columba dari Bobbio, terkait masalah pengakuan terhadap hasil Konsili Konstantinopel II. Pada masa kepausannya juga, terjadi bencana kelaparan, wabah penyakit, dan banjir. Pada akhir kehidupannya, Paus Bonifasius IV mengubah rumahnya menjadi biara dan tinggal disana. Ia membagi waktu antara tugas kepausan dan kehidupan sebagai seorang biarawan. Pada 8 Mei 615, Paus Bonifasius IV, O.S.B., meninggal dunia di Roma, dan dimakamkan di Basilika St. Petrus.


Kalender Orang Kudus