Tampilkan postingan dengan label Paus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Paus. Tampilkan semua postingan

Sto. Klement I

23 November

Paus Klement adalah Paus ke-4 Gereja Katolik yang menjadi Paus pada tahun 88-97. Klement lahir pada tahun 30 di Mont Coelius, Roma. Ia adalah putera dari Faustinianus, seorang senator Romawi, yang bersahabat baik dengan kaisar-kaisar Roma. Klemens adalah murid Sto. Petrus dan ia ditahbiskan Sto. Petrus menjadi Uskup. Nama Klemens disebutkan dalam Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi. Klement menjadi Paus menggantikan Paus Sto. Anakletus pada tahun 88. Kesulitan-kesulitan dihadapi Paus Klement, terlebih lagi pada saat itu Gereja masih dalam masa penganiayaan oleh bangsa Romawi. Suatu ketika terjadi masalah di Korintus, dimana umat tidak mau menghormati Uskup yang telah dipilih. oleh sebab itu Paus Klement mengirimkan surat kepada jemaat di Korintus. Isinya menyangkut ajaran mulia perihal rahasia Tuhan dan cinta kasih antara umat. Surat itu diterima baik oleh umat Korintus dan dijadikan bacaan ibadat sebagai surat seorang rasul selama beberapa kali di dalam gereja. Surat ini merupakan surat pertama Klemens yang memperlihatkan campur tangan seorang Paus terhadap masalah di keuskupan lain. Paus Klemens juga dikenal sebagai Bapa Apostolik pertama. Ia ditangkap dan dibuang selama penganiayaan Gereja oleh Kaisar Trajan ke Krimia, Laut Hitam dan dihukum kerja paksa di sana. Paus Klement menghibur dan membesarkan hati rekan-rekannya dengan mengisahkan penderitaan Yesus. Karena dianggap mencurigakan, para serdadu Romawi mengikat Paus Klemens dan menceburkannya ke dalam Laut Hitam. Paus Klement meninggal dunia sebagai martir sekitar tahun 99-101.


Sto. Leo I

10 November

Paus Leo I adalah Paus ke-45 Gereja Katolik yang menjadi Paus mulai pada tahun 440-461. Leo lahir sekitar tahun 400 di Tuscany, Italia. Ia adalah putera dari Quintianus, yang juga seorang bangsawan. Leo adalah seorang pelajar yang cerdas, terutama dalam bidang teologi dan Kitab Suci. Ia kemudian diketahui menjadi Diakon Gereja, pada masa Kepausan Paus Sto. Selestinus I. Pada akhir masa Kepausan Paus Sto. Sixtus III, Leo diutus oleh Kaisar Valentianus III dalam sebuah misi ke Galia untuk mendamaikan Aetius dan Albinus. Pada 19 Agustus 440, Paus Sto. Sixtus III meninggal dunia, ketika Leo masih berada di Galia. Leo kemudian terpilih sebagai Paus dan ditahbiskan pada 29 September 440. Awal masa Kepausanya dimulai dengan munculnya ajaran sesat Pelagianisme dan Manicheanisme. Paus Leo berhasil mempertobatkan banyak orang yang terpengaruh Manicheanisme. Paus Leo juga harus menghadapi ajaran sesat Priscillianisme yang masih bertahan di Spanyol. Ajaran sesat terakhir yang dihadapi Paus Leo adalah Monofisitisme. Ajaran ini didukung oleh Kaisar Teodosius II dan juga Dioscorus, Patriark Alexandria. Sementara itu, ajaran ini juga mendapat tentangan selain dari Paus Leo, juga dari Sto. Flavianus, Patriark Konstantinopel. Masalah Monofisitisme menjadi besar setelah Eutyches diekskomunikasi oleh Sto. Flavianus yang juga didukung oleh Paus Leo. Pada tahun 449, diadakan sebuah konsili di Efesus yang oleh Paus Leo dinamakan sebagai "konsili para penyamun", karena konsili ini berlangsung dibawah tekanan Kaisar yang mendukung Monofisitisme. Pada tahun 451, diadakan Konsili Kalsedon, dimana ajaran Paus Leo yang juga dimaklumkan sebagai sebuah dogma, bahwa Kristus memiliki dua kodrat yakni kodrat Ilahi dan kodrat manusiawi. Konsili ini juga mengutuk Monofisitisme. Kisah lain dari Paus Leo yang sangat dikenal adalah ketika ia menghadapi Raja Atilla dari Hun dan juga Genserik, Raja Vandal yang pada saat itu menyerang kota Roma. Paus Leo mendatanginya dan memintanya tidak menyerang. Ada banyak kisah pada saat pertemuan ini yang tidak diketahui kebenarannya. Atas keberhasilannya, Paus Leo berdevosi kepada Sto. Petrus yang juga dikisahkan menampakan diri bersama dengan Paus Leo saat menemui bangsa Hun. Paus Leo juga memperbaiki banyak gereja dan juga mendirikan sebuah Basilika diatas makam Paus Kornelius. Paus Leo meninggal dunia pada 10 November 461 di Roma. Pada tahun 1754, ia dinyatakan sebagai Pujangga Gereja oleh Paus Benediktus XIV.


Sto. Yohanes Paulus II

22 Oktober

Paus Yohanes Paulus II adalah Paus ke-264 Gereja Katolik yang menjadi Paus pada tahun 1978-2005. Karol Józef Wojtyla lahir pada 18 Mei 1920 di Wadowice, Krakow, Polandia. Ia adalah putera pasangan Karol Wojtyla dan Emilia Kaczorowka. Ibunya meninggal dunia ketika melahirkan anaknya yang ketiga pada tahun 1929 dan ayahnya meninggal pada tahun 1941. Kakaknya bernama Edmund, seorang dokter, meninggal pada tahun 1932 dan adiknya, Olga meninggal sebelum dapat dilahirkan. Setelah lulus dari Sekolah Menengah Marcin Wadowita di Wadowice, Karol masuk Universitas Jagiellonian, Krakow pada tahun 1938 dan juga belajar di sebuah sekolah drama. Pada tahun 1939, tentara Nazi menutup universitasnya, sehingga ia terpaksa bekerja disebuah tambang dan kemudian pabrik bahan kimia untuk dapat bertahan hidup dan menghindari deportasi menuju Jerman. Panggilan Tuhan mulai ia rasakan pada tahun 1942, dan Karol belajar di Seminari Krakow yang dijalankan sembunyi-sembunyi oleh Kardinal Adam Stefan Sapieha, Uskup Agung Krakow. Setelah Perang Dunia II berakhir, ia melanjutkan belajar di Seminari Tinggi Krakow, ketika dibuka kembali, dan ia belajar teologi di Universitas Jagiellonian. Karol ditahbiskan sebagai imam pada 1 November 1946 oleh Kardinal Sapieha. Tidak lama kemudian ia dikirim ke Roma dan menyelesaikan doktorat teologi pada tahun 1948. Pada masa liburannya ia melayani para imigran Polandia di Perancis, Belgia, dan Belanda. Pada tahun 1948, ia kembali ke Polandia dan berkarya di beberapa paroki dan juga melayani para mahasiswa. Pada tahun 1951, ia melanjutkan pendidikan dalam bidang filsafat dan teologi. Setelah menyelesaikan studinya, Karol menjadi pengajar di Seminari Tinggi Krakow dan Fakultas Teologi Lublin. Pada 4 Juli 1958, ia ditunjuk sebagai Uskup Auxiler Keuskupan Agung Krakow oleh Paus V. Pius XII. Karol ditahbiskan pada tanggal 28 September oleh Uskup Agung Eugeniusz Baziak. Pada 13 Januari 1964, ia diangkat sebagai Uskup Agung Krakow dan kemudian sebagai kardinal pada 26 Juni 1967, oleh Paus Bto. Paulus VI. Sebagai Uskup, Ia berpartisipasi pada Konsili Vatikan II dan membantu merumuskan Konstitusi Gaudium et Spes. Pada 16 Oktober 1978, Karol Kardinal Wojtyla terpilih sebagai Paus menggantikan Paus Yohanes Paulus I, dan mengambil nama Yohanes Paulus II atas saran dari Kardinal Wyszynski. Ia adalah Paus pertama yang berasal dari luar Italia setelah Paus Adrian V Sebagai Paus, ia banyak melakukan kunjungan ke berbagai negara di dunia. Kecintaannya pada Orang Muda menciptakan Hari Orang Muda Sedunia. Paus Yohanes Paulus II juga mengajak seluruh pemimpin agama untuk berdoa memohon perdamaian dunia di Assisi. Paus Yohanes Paulus II juga membangun komunikasi dengan umat Yahudi. Masa Kepausannya juga menjadi sebuah ancaman bagi pemerintah Komunis. Pada 13 Mei 1981, terjadi percobaan pembunuhan terhadapnya di lapangan St. Petrus oleh Mehmet Ali Agca. Paus selalu meyakini bahwa ia dilindungi oleh Bunda Maria, sehingga ia mempersembahkan peluru yang menembus tubuhnya kepada Sta. Perawan Maria dari Fatima. Masih banyak hal yang dilakukan semasa Kepausannya, seperti memperkenalkankan lima peristiwa cahaya, yang disusun oleh Sto. Georgius Preca, dalam devosi rosario, membeatifikasi 1338 orang terberkati dan mengkanonisasi 482 orang kudus, ia juga mengangakat Sta. Teresa dari Lisieux sebagai Pujangga Gereja pada tahun 1997, dan juga mempromosikan devosi kerahiman ilahi, yang juga sudah ia lakukan ketika menjadi Uskup Agung Krakow. Paus Yohanes Paulus II juga menetapkan Pesta Kerahiman Ilahi pada satu minggu setelah Hari Raya Paskah, pada tahun 2002. Paus Yohanes Paulus II meninggal dunia pada 2 April 2005, tepat pada vigili Pesta Kerahiman Ilahi, di Roma, Vatikan. Pada 1 Mei 2011, ia dibeatifikasi oleh Paus Benediktus XVI, dan pada 27 April 2014, ia dikanonisasi oleh Paus Fransiskus.


dari sumber:
http://www.indocell.net/yesaya
http://www.vatican.va/
sumber-sumber lainnya.

Sto. Kallistus I

14 Oktober

Paus Kallistus I adalah Paus ke-16 Gereja Katolik yang menjadi Paus pada tahun 217-222. Tidak diketahui jelas mengenai kapan dan dimana ia dilahirkan. Kallistus diketahui sebagai seorang budak milik Carpophorus, seorang Kristen dalam rumah tangga Caesar. Oleh tuan-nya, Kallistus diberikan sejumlah uang yang kemudian digunakan Kallistus untuk membuka sebuah Bank. Usahanya hancur, dan ia melarikan diri. Carpophorus mengejarnya dan berhasil menangkapnya. Kallistus dihukum untuk bekerja, tetapi para depositornya memohon agar ia dibebaskan. Tidak lama kemudian Kallistus kembali membuat masalah dengan mengejek orang Yahudi di sinagoga. Kali ini ia dikirim untuk bekerja di tambang di Sardinia. Ketika para tahanan Kristen dibebaskan atas usaha Paus Sto. Victor, Kallistus ikut dibebaskan. Paus Sto. Victor kemudian memberikannya sejumlah uang dan mengirimnya ke Antium. Pada masa Kepausan Sto. Zephyrinus, Kallistus dipanggil kembali dan dipercayakan untuk mengurus sebuah pemakaman, yang kemudian dikenal dengan pemakaman Sto. Kallistus. Diperkirakan pada masa ini juga ia menjadi Diakon Agung dan membantu Paus Sto. Zephyrinus dalam hal melawan ajaran sesat. Setelah Paus Sto. Zephyrinus meninggal dunia, ia terpilih sebagai Paus pada sekitar tahun 217. Pada masa Kepausannya, Paus Kallistus mengampuni orang-orang yang pernah melakukan pembunuhan, perzinahan, dan percabulan, setelah mereka mengakukan dosa mereka dan menyesali dosa-dosa mereka. Mereka bahkan diperkenankan untuk kembali menerima Komuni. Selain itu, Paus juga mengizinkan perkawinan antara seorang bangsawan dengan seseorang dari kelas yang lebih rendah, bahkan budak sekalipun, dan juga perkawinan bagi para rohaniwan pada tingkatan terendah. Kepausan Kallistus mendapatkan pertentangan dari Sto. Hippolitus dan Tertulianus, tetapi mendapat dukungan dari Gereja. Sto. Hippolitus kemudian melakukan skisma dengan menjadi anti-paus, dan Tertulian menyebarkan ajaran sesat. Paus Kallistus meninggal pada sekitar tahun 222 dan diyakini meninggal sebagai seorang martir.


dari sumber:
http://www.newadvent.org/
http://www.catholic.org/
http://saints.sqpn.com/
http://www.imankatolik.or.id/
http://www.indocell.net/yesaya

Sto. Yohanes XXIII

11 Oktober

Paus Yohanes XXIII adalah Paus ke-261 Gereja Katolik yang menjadi Paus pada tahun 1958-1963. Ia terlahir dengan nama Angelo Giuseppe Roncalli pada 25 November 1881 di Sotto il Monte, Italia. Ia adalah anak ke empat dari 14 bersaudara. Keluarganya bekerja sebagai petani. Suasana religius dari keluarga dan kehidupan paroki, dibawah asuhan P. Fransiskus Rebuzzini, memberikannya pelatihan akan kehidupan Kristiani. Roncali memasuki seminari Bergamo pada tahun 1892. Pada tahun 1896, ia diterima pada Ordo Fransiskan Sekuler  oleh pembimbing spiritualnya di seminari, P. Luigi Isacchi. Mulai 1901 sampai 1905 ia belajar di Seminari Pontifikal Romawi. Pada 10 Agustus 1904 ia ditahbiskan sebagai imam di gereja Santa Maria in Monte Santo, di Rome's Piazza del Popolo. Pada 1905 ia ditunjuk sebgai sekretaris Uskup Bergamo, Mgr. Giacomo Maria Radini Tedeschi. Dalam seminari, ia mengajarkan sejarah, patrology, dan apologetik. Ia adalah pengkhotbah yang elegan, mendalam, efektif dan dicari. Ketika Italia mengalami perang pada 1915, Roncali didaftarkan sebagai seorang sersan pada bagian medis dan menjadi imam bagi tentara yang terluka. Ketika perang berakhir, ia membuka "Rumah Pelajar" untuk orang muda yang membutuhkan pendidikan spiritual. Pada 1919 ia menjadi pembimbing spiritual seminari, tetapi pada 1921 ia dipanggil oleh Paus Benediktus XV untuk berkarya di Tahta Suci. Pada 1925, Paus Pius XI menunjuknya sebagai Delegasi Apostolik untuk Bulgaria, mengangkatnya sebagai Uskup tituler Areopolis. Motto Episkopalnya adalah Oboedienta et Pax (Ketaatan dan Perdamaian). Pada 19 Meret 1925 Roncali ditahbiskan sebagai Uskup. Ia pergi menuju Bulgaria dan menetap di Bulgaria sampai tahun 1935. Pada tahun 1935 ia ditunjuk sebagai Delegasi Apostolik untuk Turki dan Yunani. Pelayanannya di antara umat Katolik sangat giat, dan pendekatan dengan penuh hormat dan dialog dengan dunia Gereja Ortodoks dan Islam menjadi suatu kelebihan dari masa jabatannya. Ketika Perang Dunia Kedua pecah, ia berada di Yunani. Ia berusaha membantu para tahanan perang menyampaikan berita kepada keluarga mereka dan juga banyak membantu orang Yahudi dengan memberkan visa. Pada bulan Desember 1944 Paus V. Pius XII menunjuknya sebagai Nuncio di Perancis. Pada tahun 1953 ia diangkat sebagai Kardinal dan dikirim ke Venesia sebagai Patriark. Setelah kematian Paus V. Pius XII, ia terpilih sebagai Paus pada 28 Oktober 1958, dengan mengambil nama Yohanes XXIII. Paus Yohanes XXIII tepilih pada usia 76 tahun dan banyak yang menilai tidak banyak yang dapat ia lakukan. Masa Kepausannya dimulai dengan mempromosikan reformasi sosial bagi para pekerja, orang miskin, yatim-piatu, dan mereka yang terpinggirkan. Pada tahun 1959, ia melarang umat Katolik untuk memilih  partai yang mendukung komunisme. Ia juga mengadakan dialog dengan agama-agama lain, termasuk Protestan, Orthodox, Anglikan, dan bahkan Shinto. Satu hal yang sangat dikenal adalah ketika ia memanggil semua Uskup untuk mengadakan Konsili Vatikan II pada 25 Januari 1959. Paus Yohanes XXIII juga mendirikan sebuah komisi untuk merevisi Kitab Hukum Kanonik, dan menerbitkan ensiklik Pacem in Terris dan Mater et Magistra. Pada tahun 1962, ia memperkenalkan aturan baru dan juga menjadi yang terakhir bagi Misa Tridentine atau Misa Forma Ekstraordinaria. Pada 11 Oktober 1962, ia membuka Konsili Vatikan II dan menjadi puncak masa Kepausannya. Paus Yohanes XXIII meninggal pada 3 Juni 1963 di Roma. Pada 3 September 2000, ia dibeatifikasi oleh Paus Bto. Yohanes Paulus II, dan pada 27 April 2014, ia dikanonisasi oleh Paus Fransiskus.


Sto. Kornelius

16 September

Paus Kornelius adalah Paus ke-21 Gereja Katolik yang menjadi Paus pada tahun 251-253. Kornelius diyakini ia lahir di Roma dan kemudian menjadi seorang Uskup. Ketika Paus Sto. Fabianus meninggal dunia pada 20 Januari 250, pada masa penganiayaan Decius, tidak ada seorangpun yang berani melakukan pemilihan Paus yang baru, sehingga selama empatbelas bulan Gereja tidak memiliki seorang pemimpin. Kemudian pada sekitar Maret 251, masa penganiayaan sedikit berkurang, sehingga para Uskup dapat memilih pemimpin yang baru, dan terpilihlah Kornelius sebagai Paus pada tahun 251. Beberapa minggu kemudian, seorang Imam bernama Novatian mengangkat dirinya sebagai anti-paus, tetapi Sto. Siprianus dari Kartago meyakinkan banyak Uskup, termasuk Sto. Dionisius Agung, Uskup Alexandria untuk tetap setia dan mendukung Paus Kornelius. Permasalahan terjadi ketika Paus Kornelius bersedia mengampuni mereka yang berapostasi pada masa penganiayaan Decius, atau dikenal juga dengan istilah Lapsi, setelah melakukan pertobatan yang cukup. Sementara itu Novatian mengajarkan bahwa mereka tidak dapat diampuni oleh Gereja. Konsili Kartago menerima ajaran dari Paus Kornelius. Paus juga mengekskomunikasi Novatian dan mengutuk ajaran sesat Novatianisme dalam sinode Uskup di Roma. Dalam suratnya kepada Uskup Fabian di Antiokia, Paus Kornelius menuliskan data jumalah umat dan rohaniwan di Roma. Pada awal tahun 252, dimulailah penganiayaan baru oleh Kaisar Gallus. Paus Kornelius diasingkan ke Centumcellæ (Civita Vecchia). Paus Kornelius meninggal dunia sebagai martir pada tahun 253 di Centumcellæ (Civita Vecchia).


Sto. Gregorius I

3 September

Paus Gregorius I adalah Paus ke-64 Gereja Katolik yang menjadi Paus pada tahun 590-604. Gregorius lahir sekitar tahun 540 di Roma. Ia adalah putera seorang patrician kaya bernama Gordianus, dan Sta. Silvia. Gregorius juga merupakan keponakan dari Sta. Tarsilla dan Sta. Emiliana. Gregorius masih keturunan dari Paus Sto. Felix III. Gregorius memperoleh pendidikan yang terbaik. Pada tahun 573, ia menjadi Prefek kota Roma, tetapi ia meninggalkan jabatan itu dan memilih menjadi seorang biarawan pada tahun 574. Gregorius mendirikan enam biara di Sicilia, diatas tanah ayahnya. Ia juga mengubah rumahnya Bukit Caelian menjadi sebuah biara Benediktin St. Andreas. Setelah tiga tahun membiara, Gregorius ditahbiskan oleh Paus Pelagius II menjadi Diakon kota Roma pada tahun 578. Tidak lama kemudian, Gregorius ditunjuk sebagai Nunsius Konstantinopel oleh Paus Pelagius II pada tahun 579. Selama di Konstantinopel, Gregorius didampingi oleh para biarawan St. Andreas. Di Konstantinopel ia sempat menentang tulisan Euthychius, Patriark Konstantinopel mengenai kebangkitan. Masalah ini sampai harus dilerai oleh Kaisar, yang kemudian mendukung Gregorius. Pada tahun 586, Gregorius kembali ke Roma, dan tidal lama kemudian ia menjadi Abbas di biara St. Andreas. Gregorius kemudian mengajarkan Kitab Suci. Suatu ketika Gregorius melihat pemuda-pemuda Inggris pada sebuah tempat umum, bahkan Sto. Beda mengatakan bahwa mereka adalah budak, membuat Gregorius berkeinginan melakukan misi ke tanah Inggris. Gregorius diizinkan untuk pergi bersama biarawannya oleh Paus Pelagius II, tetapi umat Roma mencegahnya pergi, sehingga Gregorius membatalkan rencananya. Gregorius kemudian menjadi kepala penasehat dan asisten Paus Pelagius II. Ia membantu Paus Pelagius II dalam menyelesaikan skisma di Istria. Pada Februari 590, Paus Pelagius II meninggal dan secara bulat Gregorius dipilih sebagai penggantinya. Gregorius merasa berat untuk menerima tugas ini. Ia bahkan menulis surat kepada Kaisar Maurice agar tidak memberikan pengakuan terhadap pemilihannya sebagai Paus, tetapi surat ini ditahan oleh Prefek kota, Germanus. Saat itu juga terjadi wabah, dan Gregorius menyerukan untuk dilakukan doa bersama di Basilika St. Perawan. Saat itulah legenda Gregorius melihat Sto. Mikael, malaikat agung terjadi. Enam bulan setelah pemilihannya sebagai Paus, Kaisar mengakui pemilihan Gregorius. Ada kisah yang menceritakan Gregorius melarikan diri dari kota dan bersembunyi di hutan selama tiga hari. Gregorius diberkati sebagai Paus pada 3 September 590 di Basilika St. Petrus. Setelah menjadi Paus, tindakan pertama yang dilakukan oleh Paus Gregorius adalah mengusir semua pelayan awam dari Istana Lateran dan mengganti mereka dengan para rohaniwan. Paus Gregorius mengambil alih kepemimpinan militer. Dalam sebuah sinode pada Juli 595, Paus Gregorius mengeluarkan enam aturan mengenai disiplin Gereja. Dalam hal Liturgi, Paus Gregorius menambahkan kalimat dalam Doa Syukur Agung, selain itu Paus Gregorius juga mengatur bahwa Bapa Kami dimadahkan sebelum pemecahan Hosti, Aleluiya harus dinyanyikan diluar masa Paskah, melarang kasula untuk digunakan subdiakon saat membantu perayaan Misa, dan melarang Diakon mengambil bagian dalam musik kecuali menyanyikan Injil. Paus Gregorius juga dikenal dalam hal musik sampai dengan hari ini melalui Gregorian Chant. Seperti pendahulunya, Paus Gregorius juga menentang keras penyebutan Patriark Ekumenis terhadap Patriark Konstantinopel. Paus Gregorius juga disiplin dalam aturan, terutama aturan selibat. Dalam urusan pemerintahan, Paus Gregorius memimpin sendiri usaha perdamaian dan pemerintahan. Paus Gregorius tidak ingin tergantung dengan Kekaisaran Romawi, dan Paus Gregorius menentang campur tangan Kekaisaran Romawi dalam urusan Gereja. Terhadap penganut Paganisme di Galia, Donatiisme di Afrika, dan skisma di Italia utara dan Istria, Paus mengusahakan cara-cara damai, sebelum meminta bantuan pihak sekuler untuk mengatasi hal ini. Paus Gregorius mengutuk juga usaha para Uskup untuk menguasai setiap biarawan yang berada di Keuskupannya. Ia juga mengatur usia seorang seorang biarawati untuk dapat menjadi seorang abdis. Impian Paus Gregorius untuk mempertobatkan orang-orang Inggris terwujud dengan mengirim Sto. Agustinus dari Canterbury ke Inggris dan menahbiskannya sebagai Uskup. Paus Gregorius merupakan Paus pertama yang menggunnakan gelar Servus Servorum Dei atau Hamba dari Hamba Allah. Banyak karya-karya Paus Gregorius dalam bentuk tulisan yang sangat dikagumi. Paus Gregorius I, O.S.B., meninggal dunia pada 12 Maret 604 di Roma, Italia. Pada tahun 1295, Paus St. Gregorius I dinyatakan sebagai Pujangga Gereja oleh Paus Bonifasius VIII.


Sto. Pius X

21 Agustus

Paus Pius X adalah Paus ke- 257 Gereja Katolik yang menjadi Paus pada tahun 1903-1914. Guiseppe Melchiore Sarto lahir  pada tanggal 2 Juni 1835 di Reise, Treviso, Italia. Ia adalah putera dari keluarga petani miskin sederhana. Pendidikan dasar ditempuhnya di Reise dan Castelfranco, Italia. Melebihi segalanya, Sarto ingin menyerahkan hidupnya untuk membawa banyak orang ke surga. Ia rindu menjadi seorang imam, dan untuk itu, ia dan keluarganya harus banyak berkorban agar ia dapat bersekolah di seminari. Pada tahun 1858, ia menempuh pendidikan imam di Seminari Padua, Italia hingga ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 18 September 1858. Don Sarto berkarya di paroki-paroki miskin selama tujuhbelas tahun. Perjalanan imamatnya dimulai di Paroki Tambolo, Italia sebagai pastor kepala. Setelah 9 tahun mengabdi di Tambolo, ia dipindahkan ke Paroki Salzano. Umat senang sekali padanya karena kesalehannya, kefasihannya berbicara dan kegiatan-kegiatan pastoralnya. Don Sarto biasa memberikan segala yang ia miliki demi membantu mereka yang membutuhkan. Seringkali saudaranya harus menyembunyikan sebagian pakaiannya agar jangan sampai Don Sarto tidak mempunyai pakaian untuk dikenakan. Bahkan setelah Don Sarto diangkat menjadi Uskup kota Mantua dan kemudian diangkat lagi menjadi Kardinal, ia masih suka membagi-bagikan apa yang ia miliki kepada mereka yang berkekurangan. Ia tidak menyimpan apa-apa bagi dirinya sendiri. Karena kesalehan dan kemampuannya, ia diangkat sebagai imam kanonik di gereja Katedral Treviso pada tahun 1875. Tak lama kemudian ia ditunjuk sebagai pembimbing rohani, pengajar dan rektor di Seminari Treviso. Di Treviso karier Sarto benar-benar meningkat. Oleh Paus Leo XIII, Don Sarto diangkat menjadi Uskup di Keuskupan Mantua, Italia pada tahun 1884. Kondisi Keuskupan Mantua kacau balau ketika Don Sarto menduduki tahta Keuskupan.  Mgr. Sarto dengan sangat berani, ia membuka kembali pendidikan Seminari dan meneguhkan imam-imamnya. Mgr. Sarto pun tak kenal lelah mengadakan kunjungan pastoral ke semua paroki untuk mengenal dari dekat situasi umatnya. Di mana-mana ia berkhotbah dan berjuang mengembalikan umatnya kepada penghayatan iman yang benar. Kunjungan pastoralnya itu menggerakkan dia untuk mengadakan suatu sinode di Mantua. Sinode itu diselenggarakan pada tahun 1888 dan berhasil merumuskan sebuah pedoman kerja Keuskupan yang baru untuk membangkitkan kembali kehidupan rohani umat seluruh Keuskupan. Tidak lama kemudian, di seluruh Keuskupan, lahirlah kembali suatu semangat baru untuk menghayati iman Kristiani. Antara Negara dan Gereja terjalin suatu hubungan yang baik, pengajaran katekismus bagi orang dewasa dan anak-anak digalakkan di seluruh Keuskupan, perkawinan Katolik ditegakkan kembali dan anak-anak sudah bisa menerima komuni pertama sejak masa remaja. Melihat keberhasilan karya Uskup Sarto, Paus Leo XIII mengangkat Sarto menjadi Kardinal pada tanggal 12 Juni 1893. Tak lama kemudian Paus Leo mengangkatnya menjadi Patriark Venesia. Di Venesia, Kardinal Sarto tidak menemui banyak masalah. Namun ia mengadakan beberapa pembaharuan di bidang pendidikan Seminari, musik liturgi dan metode pewartaan. Pelajaran agama yang dilarang oleh kaum Freemansorny diberikan lagi disekolah-sekolah umum. Gereja Venesia benar-benar cerah dibawah kepemimpinan Patriark Sarto. Sepeninggal Paus Leo XIII, para Kardinal memilih Guiseppe Melchiore Kardinal Sarto menjadi Paus. Pada awalnya ia menolak menerima jabatan mulia itu, dan dengan rendah hati, ia meminta para Kardinal agar tidak memilihnya, namun karena desakan para Kardinal, Kardinal Sarto akhirnya menerima juga jabatan itu. Ia memilih nama Pius X, dan secara resmi menduduki Tahkta Petrus pada tanggal 9 Agustus 1903. Dikisahkan ketika ibunya datang mengunjunginya di Vatikan, Paus Pius X menunjukkan kepada ibunya cincin kepausannya. Ibunya berkata bahwa Paus Pius X tidak akan mengenakan cincin itu hari ini, jika ia tidak terlebih dahulu mengenakan cincinnya, kemudian ibunya menunjukkan kepada Paus cincin emas ikatan perkawinannya. Tekadnya yang utama sebagai Wakil Kristus di dunia ialah membaharui segala sesuatu di dalam Kristus. Dua peristiwa penting yang mewarnai masa Kepausannya adalah, pemisahan antara Gereja dan negara di Perancis yang mengakibatkan hampir seluruh kekayaan Gereja dirampas oleh pemerintah, tetapi sebaliknya memberikan kebebasan penuh kepada Gereja dari kekuasaan sipil, dan kutukan terhadap gerekan filsafat dan teologi aliran Modernisme. Dalam dekritnya Lamentabili Sane dan ensiklik Pascendi Dominici Gregis, Paus Pius X secara resmi mengutuk Modernisme. Sikap Paus yang tegas ini mengakibatkan banyak pembantunya yang licik menggunakan kesempatan dan cara-cara yang tidak terpuji, bahkan tidak halal untuk ahli-ahli teologi yang berpikiran maju. Terhadap kegiatan kerasulan awam, khusus dibidang sosial dan politis, Paus Pius X selamanya bersifat curiga. Paus Pius X juga melakukan berbagai tindakan penting yang membantu Gereja bersikap luwes dan adaptif dengan situasi dan tuntutan jaman. Misalnya, kodifikasi hukum Gereja, reorganisasi dan modernisasi kuria Roma, pendirian lembaga Studi dan pendidikan Kitab Suci dan usaha membaharui terjemahan Kitab Suci dalam bahasa Latin. Ia juga memajukan devosi kepada Santa Perawan Maria. Paus Pius X juga mengerahkan banyak tenaga untuk memperbaharui liturgi, Sepanjang hidupnya ia tertarik pada musik-musik sakral dan mendorong digunakannya lagu-lagu Gregorian di setiap paroki. Ia mendorong digunakannya juga komposisi modern dalam liturgi, selama komposisi modern ini memenuhi standard musik liturgi Gereja. Paus Pius X juga merevisi Ibadat Harian Gereja. Secara istimewa Paus Pius X dikenang karena kasihnya yang berkobar-kobar kepada Ekaristi Kudus. Bapa Suci mendorong semua orang untuk menyambut Tubuh Kristus sesering mungkin, bahkan setiap hari! Ia juga menetapkan ketentuan yang menganjurkan anak-anak yang telah berusia 7 tahun menyambut Komuni Kudus. Meskipun ia seorang Paus, namun ia tetap sederhana dan sayang pada umat. Semasa hidupnya, ia beberapa kali menyembuhkan beberapa umat dari penyakitnya secara ajaib. Paus Pius X teramat menderita ketika pecah Perang Dunia I. Ia tahu bahwa akan ada banyak orang terbunuh. Sebelum meninggal dunia, dalam surat wasiatnya ia menulis bahwa ia dilahirkan miskin, hidup miskin dan ingin mati secara miskin juga. Paus Pius X meninggal dunia pada tanggal 20 Agustus 1914 di Roma, dua minggu setelah pecah Perang Dunia I. Segera setelah ia meninggal terdengar banyak permintaan agar dia dinyatakan sebagai santo oleh Gereja. Paus Pius X dibeatifikasi pada 3 Juni 1951 dan dikanonisasi pada 29 Mei 1954 oleh Paus V. Pius XII

Sto. Pontianus

19 November

Paus Pontianus adalah Paus ke-18 Gereja Katolik yang menjadi Paus pada tahun 230-235. Pontianus lahir di Roma. Ia adalah putera dari Calpurnius. Tidak banyak yang diketahui mengenai kehidupannya sebelum menjadi Paus. Setelah kematian Paus Sto. Urbanus I, Ia terpilih sebagai Paus pada 21 Juli 230. Dalam masa Kepausannya, ia dihadapi oleh banyak masalah, diantaranya adalah skismatik dari Anti-paus Sto. Hippolitus yang masih berlangsung, dan ditambah dengan kesesatan ajaran Origen, seorang katekis dari Alexandria. Paus Pontianus bahkan mengadakan sinode untuk menanggapi pengutukan ajaran Origen yang terlebih dahulu dilakukan oleh sinode di Alexandria. Pada tahun 235, Pontianus ditangkap oleh para perwira Romawi dalam penganiayaan Kaisar Maximinus I Thrax. Besama dengan Sto. Hippolitus ia diasingkan ke sebuah tambang di Sardinia. Disinilah Sto. Hippolitus diyakini bertobat dan bersatu kembali ke dalam Bunda Gereja. Pada saat pengasingan ini, Paus Pontianus mengundurkan diri pada 28 September 235, dan menjadi Paus pertama yang melakukan hal itu. Hal ini dilakukan agar kepemimpinan Gereja dapat terus dilanjutkan. Bersama dengan Sto. Hippolitus ia meninggal di Sardinia pada tahun 235. Relikuinya dibawa kembali ke Roma pada masa Kepausan Paus Sto. Fabianus dan dimakamkan di pemakaman Sto. Kallistus.


Sto. Sixtus II

7 Agustus

Paus Sixtus II adalah Paus ke-24 Gereja Katolik yang menjadi Paus pada tahun 257-258. Sixtus berasal dari Yunani, dan diyakini menjadi seorang Kristen setelah dewasa. Sebelum menjadi Paus, Sixtus diyakini juga menjadi Diakon di Roma. Setelah kematian Paus Sto. Stefanus I, Sixtus terpilih menggantikannya pada 30 Agustus 257. Paus Sixtus harus menghadapi penganiayaan umat Kristen oleh Kaisar Valerian. Ia juga mengikuti jejak Paus Sto. Stefanus I dalam mengakui baptisan oleh seorang penganut ajaran sesat, tetapi Paus Sixtus menghormati keinginan para Uskup Asia-Afrika yang mengharuskan mereka dibaptis kembali dan memperbaiki hubungan yang sebelumnya memburuk. Penganiayaan Kaisar Valerian menjadi semakin parah dengan mengeluarkan aturan bahwa para Uskup, Imam dan Diakon, harus dihukum mati. Pada 6 Agustus 258, Paus Sixtus bersama dengan diakon-diakonnya, Sto. Agapitus, Sto. Felicissimus, Sto. Januarius, Sto. Stefanus, Sto. Vincentius, Sto. Magnus, dan Sto. Laurensius, ditangkap saat merayakan Ekaristi di pemakaman Praetextatus. Paus Sixtus bersama dengan diakon-diakonnya, kecuali Sto. Laurensius, dibunuh sebagai martir pada hari itu juga. Sebuah legenda menceritakan bahwa Paus Sixtus II mengatakan kepada Sto. Laurensius bahwa ia akan bertemu kembali dengan Paus Sixtus II dalam waktu tiga hari, ketika St. Laurensius memohon agar dapat terus bersamanya. Paus Sixtus II dan para diakonnya dimakamkan di pemakaman Sto. Kallistus.


Bto. Eugenius III

8 Juli

Paus Eugenius III adalah Paus ke-167 Gereja Katolik yang menjadi Paus pada tahun 1145-1153. Pietro dei Paganelli di Montemagno lahir di Montemagno, Pisa, Italia. Ia adalah putera keluarga bangsawan Paganelli. Pietro memperoleh pendidikan di Pisa, kemudian ia ditahbiskan sebagai imam dan bertugas sebagai canon katedral. Pietro kemudian tertarik untuk bergabung dengan Ordo Sistersian pada tahun 1130. Lima tahun kemudian ia bergabung di biara Clairvaux, Perancis, dibawah Sto. Bernardus dari Clairvaux. Diyakini pada saat bergabung dengan Ordo Sistersian, Pietro mengganti namanya menjadi Bernardo Pignatelli atau Bernardus dari Pisa. Sto. Bernardus kemudian mengirimnya bersama beberapa biarawan untuk membuka kembali biara di Frafa, tetapi Paus Innocentius II menempatkan mereka di Tre Fontane, di luar kota Roma. Bernardo ditunjuk menjadi abbas pada biara Tre Fontane. Setelah kematian Paus Lucius II, para kardinal langsung mengadakan pemilihan karena situasi politik di Roma yang kurang baik. Mereka sepakat untuk memilih Bernardus yang bukan merupakan anggota kolegium kardinal, dengan nama Eugenius III. Pada 15 Februari 1145, Bernardus langsu ditakhtakan di Basilika St. Yohanes Lateran. Paus Eugenius langsung dilarikan dari kota Roma karena situasinya yang kacau. Mereka pergi ke biara di Farfa, dimana Paus Eugenius menerima tahbisan Episkopal. Untuk sementara waktu, Paus Eugenius mengungsi di Viterbo. Paus Eugenius mengampuni Arnold dari Brescia, tetapi ia kemudian kembali melakukan kekacauan. Setelah sempat kembali ke kota Roma melalui perjanjian dengan para bangsawan, Paus Eugenius kembali meninggalkan Roma. Dalam perjalanannya ke Perancis, Paus Eugenius menyerukan perang salib dan menugaskan Sto. Bernardus untuk berkotbah tentang perang salib II. Paus Eugenius juga menugaskan Kardinal Breakspear sebagai utusan atas Scandinavia. Paus Eugenius juga mengadakan usaha rekonsiliasi dengan Gereja Oriental. Paus Eugenius juga tidak segan-segan menghukum para Uskup yang tidak melaksanakan kanon-kanon yang dipuuskan oleh sinode Reims pada tahun 1148. Pada tahun 1148, Paus Eugenius kembali ke Italia, dan ia mengekskomunikasi Arnold dari Brescia. Pada tahun 1149, Paus Eugenius berhasil kembali ke Roma dan merayakan Natal di Basilika Lateran. Paus Eugenius tidak lama tinggal di Roma sebelum ia terpaksa meninggalkan kota ini kembali. Pada tahun 1153, Paus Eugenius mengadakan perjanjian Constance dengan Frederick Barbarossa. Melalui perjanjian ini, Paus Eugenius berhasil kembali ke Roma. Paus Eugenius III meninggal dunia pada 8 Juli 1153 di Tivoli, Italia. Pada 28 Desember 1872, ia dibeatifikasi oleh Paus Bto. Pius IX.


dari sumber http://www.newadvent.org/, http://www.catholic.org/, http://saints.sqpn.com/, http://www.paulines.ph/, https://en.wikipedia.org/, dan Buku Mengenal 265 Paus Dari St. Petrus Hingga Benediktus XVI

Sto. Petrus

29 Juni

Petrus adalah satu dari ke-12 rasul Kristus. Ia adalah Paus pertama Gereja Katolik yang dipilih langsung oleh Tuhan Yesus yang menjadi Paus pada tahun 33 sampai 64/67. Simon adalah putera Yunus atau Yohanes, dan saudara dari Sto. Andreas. lahir di Betsaida, Galilea. Seperti ayahnya, Simon adalah seorang nelayan. Pada mulanya, Simon bersama Sto. Andreas saudaranya, menjadi murid Sto. Yohanes Pembaptis. Oleh Sto. Andreas, Simon diperkenalkan kepada Yesus. Setelah bertemu dengan Simon, Yesus mengganti namanya menjadi Petrus atau Kefas yang artinya batu karang. Petrus menjadi saksi atas banyak mukjizat salah satunya adalah Yesus berjalan di atas air. Melihat Yesus berjalan di atas air, Petruspun mencobanya, tetapi karena imannya yang tidak kuat membuat ia jatuh. Iman Petrus sering kali lemah, tetapi Yesus tetap mempercayakan kepemimpinan bagi umat-Nya kepada Petrus. Dalam Injil, Yesus menunjuk Petrus untuk memimpin Gereja yang akan Ia dirikan, dan setelah kebangkitan-Nya, Yesus kembali mempercayakan umat-Nya kepada Petrus. Keutamaan Petrus terlihat dengan namanya yang selalu disebutkan paling awal diantara para rasul, selain itu nama Petrus paling banyak disebutkan dari gabungan ke-11 rasul lainnya dalam Kitab Suci. Sesudah kenaikan Yesus, Petrus menjadi pemimpin keduabelas rasul dan gembala kaum beriman di Yerusalem. Pada hari Pentakosta, Petrus yang berkhotbah di hadapan orang banyak dan memaklumkan misi Gereja. Dialah yang pertama kali mengadakan mukjizat penyembuhan. Petrus juga yang menerima wahyu bahwa kaum kafir harus dibaptis. Petrus pertama-tama mewartakan Injil di Yerusalem, dan merupakan pemimpin komunitas Kristen yang pertama. Ia mendirikan Gereja di Antiokia. Ia memimpin konsili Gereja Katolik yang pertama di Yerusalem di tahun 51, dimana ia berada dipihak Sto. Paulus menentang perlunya sunat. Ia menulis dua surat yang menjadi bagian dalam Kitab Suci, yaitu Surat Petrus 1 dan 2 kepada umat di Asia Kecil. Ia mendirikan pusat pengajarannya sebagai uskup di Roma dimana ia menghabiskan tahun-tahun terakhirnya dan menjadi martir dengan cara disalibkan pada tahun 64 atau 67 selama penganiayaan oleh Kaisar Nero. Dikisahkan Petrus berusaha melarikan diri dari penganiayaan umat Kristen. Ketika ia tiba di gerbang keluar kota Roma, ia bertemu dengan Yesus dan bertanya dalam bahasa Latin, Quo Vadis, Domine atau Kemana Engkau pergi, Tuhan? Yesus menjawab bahwa Ia akan pergi ke Roma untuk disalibkan kembali. Akhirnya, Petrus kembali ke Roma dan memberikan kesaksian tentang imannya akan Yesus. Petrus akirnya ditangkap dan ketika mengetahui bahwa dirinya akan disalibkan, Petrus meminta untuk disalibkan terbalik karena ia merasa tidak pantas untuk disalibkan sama seperti Tuhan Yesus. Petrus meninggal dunia pada tahun 64/67 di Roma. Makam Sto. Petrus sempat menghilang atau tidak diketahui keberadaannya. Pada tahun 1939, ketika dilakukan penggalian untuk membuat makam bagi para Paus, secara tidak sengaja, para pekerja menemukan celah dan setelah ditelusuri, celah itu menghubungkan dengan Necropolis, dimana makam Sto. Petrus berada disana. Makam Sto. Petrus berada tepat dibawah altar Basilika Sto. Petrus, yang dibuat oleh Kaisar Konstantin menurut kepercayaan umat yang beredar pada tahun 315.


Sto. Gregorius VII

25 Mei

Paus Gregorius VII adalah Paus ke-157 Gereja Katolik yang menjadi Paus pada tahun 1073-1085. Hildebrand lahir pada sekitar tahun 1020-1025 di Soana, Tuscany, Italia. Ia adalah putera dari Bonizo, seorang tukang kayu atau petani. Hildebrand kemudian belajar ke Roma di biara St. Maria, dimana pamannya, Laurensius, menjadi abbas. Hildebrand kemudian bergabung dengan biarawan Benediktin, dan melayani sebagai asistennya Imam Agung Yohanes Gratian, sampai Yohanes menjadi Paus Gregorius VI. Ketika Paus Gregorius VI diturunkan dan diasingkan, Hildebrand dengan setia mendampinginya sampai dengan kematiannya pada 1047. Pada Januari 1049, ia bertemu dengan Bruno, Uskup Toul, yang kemudian menjadi Paus Sto. Leo IX. Tidak lama setelah menjadi Paus, Paus Sto. Leo IX mengangkat Hildebrand sebagai kardinal-subdiakon, dan bertugas sebagai bendahara. Pada tahun 1054, ia dikirim ke Perancis sebagai delegasi Kepausan. Ketika berada di Tours, ia mendengar berita bahwa Paus Sto. Leo IX meninggal dan ia segerea kembali ke Roma. Di Roma ia dipilih sebagai pengganti Paus Sto. Leo IX, tetapi ia menolak jabatan ini. Hildebrand kemudian memilih Gebhard, Uskup Eichstadt, yang kemudian terpilih sebagai Paus Viktor II. Pada tahun 1057, Hildebrand pergi ke Jerman untuk mendamaikan Ratu Agnes dengan keluarga kerajaan, tetapi misi ini tidak berhasil ia jalankan. Saat Paus Stefanus IX akan meninggal, ia meminta supaya tidak dilakukan pemilihan sebelum Hildebrand kembali. Saat itu terjadi sedikit pertikaian, tetapi Hildebrand kembali dan berhasil mendamaikan dengan terpilihnya Gerard, Uskup Florence, sebagai Paus Nikolaus II. Nama Hildebrand semakin berpengaruh. Paus Nicholas II mengangkatnya sebagai Diakon Agung, dan Paus Alexander II mengangkatnya sebagai Penasehat Tahta Apostolik. Setelah kematian Paus Alexander II, semua umat dan klerus menunjuknya sebagai Paus. Hildebrand tidak dapat menolak kembali jabatan ini. Setelah mendapat persetujuan Kaisar Henry IV, Hildebrand ditahbiskan sebagai Imam, dan kemudian Uskup. Ia memilih nama Gregorius VII pada 29 Juni 1073. Pada masa Kepausannya, Paus Gregorius VII melawan dengan keras praktek simoni. Ia bahkan tidak segan-segan mengekskomunikasi para rohaniawan yang menentangnya dalam melawan simoni. Pada tahun 1075, sebuah sinode Roma memutuskan untuk mengekskomunikasikan siapa saja, termasuk kaisar, yang mencampuri urusan Gereja. Sinode juga menurunkan semua prelatur yang diangkat oleh Kaisar Henry IV. Kaisar Henry IV melawan tindakan Paus Gregorius VII, sehingga ia diekskomunikasi. Merasa ditinggalkan oleh para pengikutnya, Kaisar Henry IV kemudian meminta pengampunan kepada Paus di kastil Cannosa. Setelah melakukan tindakan penitensi yang cukup keras, Paus Gregorius VII mengampuni Kaisar Henry IV pada 28 Januari 1077. Kaisar Henry ternyata tidak sungguh-sungguh bertobat. Pada tahun 1080, ia mengangkat seorang Uskup yang sudah diekskomunikasi karena simoni, Guibert, sebagai anti-paus Klement III. Paus Gregorius VII kembali mengekskomunikasi Kaisar Henry IV pada tahun yang sama. Pada tahun 1084, Kaisar Henry IV menaklukan kota Roma dan memaksa Paus Gregorius VII untuk mengungsi. Robert Guiscard, memimpin orang-orang Normandia untuk membantu Paus Gregorius VII dan berhasil mengusir Kaisar Hnery IV dari Roma, tetapi kelakukan pasukan Normandia pada rakyat Roma membuat Paus kembali terusir dari Roma. Paus Gregorius VII kemudian mengungsi ke Monte Casino dan kemudian menuju Salerno. Sebelum meninggal, ia memberikan pengampunan bagi semua orang yang ia ekskomunikasikan kecuali Kaisar Henry dan Guibert. Paus Gregorius VII meninggal dunia pada 25 Mei 1085 di Salerno, Italia. Ia dibeatifikasi pada tahun 1584 oleh Paus Gregorius XIII dan dikanonisasi pada tahun 1728 oleh Paus Benediktus XIII.


Sto. Yohanes I

18 Mei

Paus Yohanes I adalah Paus ke-53 Gereja Katolik yang menjadi Paus pada tahun 523-526. Yohanes lahir pada sekitar tahun 470 di Populonia, Tuscany, Italia. Yohanes merupakan putera dari Konstantinus. Yohanes sempat menjabat sebagai Diakon Agung sebelum tepilih menjadi paus pada 13 Agustus 523. Paus Yohanes harus menghadapi Raja Theodoric dari Ostrogothic yang memiliki iman terhadap ajaran sesat Arianisme. Raja Theodoric memberikan toleransi bagi Gereja Katolik. Kembali bersatunya Gereja Barat dan Timur, serta runtuhnya paha Arianisme di Gereja Timur membuat Raja Theodoric dan pengikut Arianisme sedikit terdesak. Raja Theodoric kemudian mengirim Paus Yohanes sebagai utusannya kepada Kaisar Yustinus I. Pada awalnya Paus Yohanes menolaknya, karena salah satu permintaan raja ada supaya para penganut Arianisme yang dipaksa bertobat dapat kembali menganut Arianisme. Tetapi kemudian Paus Yohanes menerimanya, karena takut akan membuat Raja marah yang kemudian akan membawa penderitaan bagi umat Katolik di Italia. Pauspun bersedia dan menyatakan kepada Raja bahwa ia tidak akan meminta kepada Kaisar untuk membiarkan mereka yang telah bertobat kembali menganut ajaran sesat. Paus Yohanes pergi pada tahun 525, dan menjadi Paus pertama yang meninggalkan Italia menuju Konstantinopel. Sesampainya di Konstantinopel, Paus Yohanes mendapat sambutan yang sangat baik. Paus merayakan Misa Paskah di gereja St. Sophia pada 19 April 526 dengan ritus Latin. Paus juga memahkotai Kaisar Yustinus dan menjalankan tugasnya sebagai utusan Raja Theodoric. Paus Yohanes kembali ke Italia, tetapi Raja Theodoric memiliki pikiran buruk dan menuduh Paus Yohanes memiliki rencana buruk bersama Kaisar Yustinus. Paus Yohanes ditangkap dan dipenjarakan di Ravenna, dimana kemudian ia meninggal dunia dalam tahanan pada 18 Mei 526 dan dimakamkan di Basilika St. Petrus.


Sto. Pius V

30 April

Paus Pius V adalah Paus ke-225 Gereja Katolik yang menjadi Paus pada tahun 1566-1572. Antonio Ghislieri lahir pada 17 Januari 1504 di Bosco, Alessandria, Lombardy, Italia. Antonio merupakan putera dari Paolo Ghislieri dan Domenica Augeria. Walaupun keluarganya masih merupakan bangsawan, tetapi kehidupan keluarga Antonio tergolong miskin. Sejak kecil, Antonio menjadi seorang penggembala sampai ia belajar dan masuk Ordo Pengkotbah/ Dominikan pada tahun 1518 dan mengambil nama Michele. Pada tahun 1528, Michele ditahbiskan sebagai seorang imam, setelah menyelesaikan pendidikannya di Bologna. Selama enambelas tahun, Michele mengajar Teologi dan Filsafat, sampai ia menjadi pembimbing novis dan prior dalam beberapa wisma Dominikan. Michele kemudian ditunjuk sebagai inquisitor di Como dan Bergomo. Pada tahun 1551, Michele ditunjuk sebagai Komisaris Jendral Inquisitor Romawi. Pada tahun 1556, Michele ditahbiskan sebagai Uskup Nepi dan Sutri. Pada tahun yang sama, ia ditunjuk sebagai inquisitor untuk Milan dan Lombardy. Pada 15 Maret 1557, Michele diangkat menjadi Kardinal, dan pada 14 Desember 1558, ia menjadi Grand Inquisitor. Ia bersahabat dengan Sto. Karolus Borromeus. Pada tahun 1559, ia mengikuti konklaf yang memilih Paus Pius IV. Setelah kematian Paus Pius IV, Michele Ghislieri, O.P., terpilih sebagai Paus dengan nama Pius V, pada 7 Januari 1566. Masa kepausannya dimulai dengan tugas berat, yaitu mereformasi Gereja dengam mengimplementasikan hasil Konsili Trente. Paus Pius V mengeluarkan Brevir Romawi baru, Misa Romawi baru (Tridentine), Katekismus baru, dan membuka seminari-seminari baru di setiap Keuskupan. Paus Pius V menyatakan Sto. Thomas Aquinas, Sto. Athanasius dari Alexandria, Sto. Basilius Agung, Sto. Gregorius dari Nazianze, dan Sto. Yohanes Krisostomus sebagai Pujangga Gereja. Paus Pius V juga membentuk komisi untuk memperbaharui terjemahan Vulgata. Paus Pius V juga mengekskomunikasi Ratu Elisabeth I yang memperburuk hubungan Gereja Katolik dengan Kerajaan Inggris. Selain mengahadapi ajaran sesat Protestanisme, Paus juga harus menghadapi serangan bangsa Turki. Paus membentuk aliansi antara Vince dan Spanyol dan puncaknya adalah pertempuran Lepanto pada 7 Oktober 1571. Paus Pius V menyerukan semua umat Katolik untuk berdoa Rosario dan pertempuran itu berhasil dimenangkan secara ajaib oleh Aliansi Suci. Peristiwa ini membuat Paus Pius V menyatakan Minggu pertama bulan Oktober sebagai Pesta Rosario. Paus Pius V meninggal pada 1 Mei 1572 di Roma, Italia. Pada 1 Mei 1672, ia dibeatifikasi oleh Paus Klement X dan pada 22 Mei 1712, ia dikanonisasi oleh Paus Klement XI.


Sto. Marsellinus

26 April

Paus Marsellinus adalah Paus ke-29 Gereja Katolik yang menjadi Paus pada tahun 296-304. Ia diperkirakan lahir di Roma dan menjadi Paus pada 30 Juni 296. Selama kepausannya, ia memperluas pemakaman-pemakaman. Dimasa Kepausannya juga penganiayaan umat Kristen oleh Kaisar Diokletian dimulai. Diperkirakan Marselinnus meninggal secara wajar dua tahun setelah penganiayaan Kaisar Diokletian dilakukan, tetapi kisah lain mengisahkan ia meninggal dunia sebagai martir, bahkan ada yang mengisahkan ia sempat berapostasi dan memberikan persembahan kepada dewa-dewi Paganisme. Liber Pontificalis menuliskan bahwa Paus Marsellinus meninggal dunia sebagai seorang martir pada 25 Oktober 304 di Roma, Italia.


Sto. Anakletus (Kletus)

26 April

Paus Anakletus atau Kletus adalah Paus ke-3 Gereja Katolik yang menjadi Paus pada tahun 76-88. Sangat sedikit informasi yang didapat tentang riwayat hidup Anakletus, diyakini ia lahir di Yunani. Dikisahkan Kletus dipertobatkan dan kemudian ditahbiskan oleh Sto. Petrus. Setelah kematian Paus Sto. Linus, Kletus terpilih sebagai Paus pada tahun 76. Kletus menahbiskan banyak imam. Paus Anakletus meninggal dunia sebagai martir dalam masa penganiayaan Kaisar Domitianus II pada tahun 88. Ia lebih dikenal karena perdebatan atas nama Kletus dan Anakletus yang oleh banyak pihak diduga merupakan orang yang berbeda.


Sto. Caius

22 April

Paus Caius adalah Paus ke-28 Gereja Katolik yang menjadi Paus pada tahun 283-296. Caius diyakini berasal dari Spalato, Dalmatia. Caius diyakini masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan Kaisar Diocletian. Ia juga merupakan paman dari Sta. Susanna. Pada 17 Desember 283, ia terpilih sebagai Paus menggantikan Paus Sto. Eutychianus. Yang paling diketahui dari masa Kepausan Paus Caius adalah aturan seseorang untuk dapat menerima Tahbisan Episkopat haruslah sudah menerima tahbisan atau menjadi penjaga pintu, lektor, exorsist, akolit, subdeakon, diakon, dan imam. Pada masa Kepausan Caius, Gereja masil dalam keadaan damai. Paus Caius meninggal dunia pada 22 April 296 dan tidak diketahui apakah sebagai martir atau bukan. Paus Caius dimakamkan di pemakaman Sto. Kallistus.


Sto. Soter

22 April

Paus Soter adalah Paus ke-12 Gereja Katolik yang menjadi Paus pada tahun 166-175. Soter lahir di Fondi, Italia. Setelah kematian Paus Sto. Anisentus, Soter terpilih sebagai Paus pada tahun 166. Masa Kepausan Paus Soter diisi dengan mengeluarkan peraturan mengenai larangan seorang perawan yang telah diberkati untuk menyentuh Bejana Suci dan membakar dupa. Paus Soter juga mengatur Sakramen Perkawinan sah hanya jika diberkati oleh seorang imam. Paus Soter menyatakan Paskah sebagai sebuah festival di kota Roma. Paus Soter mewajibkan semua orang, kecuali mereka yang berada dalam dosa berat, untuk menerima Komuni pada Kamis Putih. Paus Soter juga menuliskan surat kepada Gereja di Korintus, tetapi surat ini tidak ditemukan. Paus Soter juga dikenal karena cinta kasihnya. Paus Soter meninggal dunia sebagai martir pada 22 April 175.


Sto. Anisetus

17 April

Paus Anisetus adalah Paus ke-11 Gereja Katolik yang menjadi Paus pada tahun 155-166. Anisentus lahir di Emesa, Syria dan merupakan putera dari Yohanes. Tidak banyak yang diketahui mengenai masa lalunya. Pada tahun 155, ia terpilih sebagai Paus menggantikan Paus Sto. Pius I. Selama masa Kepausannya, Paus Anisentus harus menghadapi ajaran sesat Gnostisisme dan Manicheisme, terlebih para tokoh ajaran sesat ini, Marcion, Marcellinus, Valentine, dan Cordo berada di Roma. Selain masalah ajaran sesat, Paus Anisentus juga dihadapi oleh persoalan perayaan Paskah pada Gereja-Gereja Timur, dimana Sto. Polikarpus dari Smyrna menemui Paus Anisentus untuk mendiskusikannya. Gereja-Gereja Timur terbiasa dengan merayakan Paskah pada tanggal 14 bulan Nisam, sementara Gereja Barat merayakannya pada hari Minggu dan Jumat. Diskusi ini tidak berjalan dengan baik, tetapi Paus Anisentus mengijinkan umat Gereja Timur untuk merayakan Paskah sesuai kebiasaan yang ada. Paus Anisentus juga membuat sebuah aturan agar semua rohaniwan laki-laki tidak memiliki rambut panjang, sehingga dapat dibedakan dengan umat awam. Pada masa Kepausannya juga, Gereja Katolik mengalami penganiayaan oleh Kaisar Marcus Aurelius. Paus Anisentus meninggal dunia pada tahun 166 sebagai seorang martir, walaupun tidak ada bukti yang menunjukan Paus Anisentus menjadi martir.


Kalender Orang Kudus