Minggu Paskah III

Tahun B

Dua murid yang dalam perjalanan ke Emaus ditemui oleh Yesus yang bangkit segera kembali ke Yerusalem. Di sana mereka menceriterakan kepada saudara-saudara yang lain apa yang terjadi di tengah jalan, dan bagaimana mereka mengenal Yesus pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. Sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka, "Damai sejahtera bagi kamu!" Mereka terkejut dan takut, karena menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi Yesus berkata kepada mereka, "Mengapa kamu terkejut, dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hatimu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini! Rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku."Sambil berkata demikian Yesus memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. Dan ketika mereka belum juga percaya karena girang dan masih heran, berkatalah Yesus kepada mereka, "Adakah padamu makanan di sini?" Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Yesus mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. Yesus berkata kepada mereka, "Inilah perkataan yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa, kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur." Lalu Yesus membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata Yesus kepada mereka, "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga. Dan lagi: Dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini."

St. Julius I

12 April

Paus Julius I adalah Paus ke-35 Gereja Katolik yang menjadi Paus pada tahun 337-352. Julius berasal dari Roma, dan merupakan putera dari Rusticus. Setelah kematian Paus St. Markus, Gereja tidak memiliki Paus selama selama empat bulan, sampai akhirnya pada 6 Februari 337, Julius terpilih menggantikannya. Masa kepausan Paus Julius diisi dengan pembelaannya kepada Uskup-Uskup Gereja Timur yang diturunkan oleh Gereja Timur yang saat itu terpengaruh oleh ajaran sesat Arianisme. Masalah semakin besar ketika Patriark Konstantinopel yang baru, Eusebius dari Nicomedia mendukung Arianisme. St. Athanasius yang pada awalnya memiliki uskup tandingan, Pistus, yang diangkat oleh Arianisme, harus kehilangan takhta Keuskupannya karena Georgius dari Cappadocia yang dipilih oleh Patriark Konstantinopel dan Arianisme memaksa menduduki takhta Keuskupan Alexandria. St. Athanasius dan Marcellus dari Ancyra, yang juga seorang Uskup yang kehilangan takhta Keuskupannya datang ke Roma. Paus Julius memanggil untuk diadakan sebuah sinode pada tahun 440 atau 441 dan mengundang baik dari pihak Eusebius dan penganut Arianisme untuk hadir, tetapi tidak satupun dari mereka hadir dalam sinode itu. Kaisar Konstans dari barat dan Konstantinus dari timur bersepaat untuk mengadakan sebuah sinode di Sardica pada tahun 342-343. Sinode ini merumuskan cara intervensi dari Kepausan atas masalah-masalah penurunan Uskup yang sah. St. Athanasius baru dapat kembali ke Keuskupannya setelah Georgius meninggal dunia, dan Paus Julius menuliskan surat kepada imam, diakon, dan umat beriman di Alexandria, untuk menyambut kembali dengan gembira Uskup mereka pada tahun 346. Paus juga mengembalikan Keuskupan kepada dua Uskup, Ursacius dari Singidunum dan Valens dari Mursia, yang oleh Sinode Sardica diturunkan karena menganut Arianisme. Kedua Uskup ini mengakui kesalahan mereka dan memberikan pernyataan iman mereka. Di Roma, Paus Julius mendirikan dua basilika, gereja tituler Julius (gereja St. Maria di Trastevere) dan Basilika Julia (gereja Duabelas Rasul). Paus Julius juga mendirikan tiga gereja diatas pemakaman, yang pertama di jalan menuju Porto, yang kedua di Via Aurelia, dan yang ketiga di Via Flaminia, tepatnya diatas makam St. Valentinus. Paus Julius I meninggal pada 12 April 352. Pada awalnya ia dimakamkan di katakombe Calepodius, sebelum dipindahkan ke gereja St. Maria di Trastevere.


Minggu Paskah

Sore

Pada hari Sabat sesudah Yesus dimakamkan, dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenali Dia. Yesus berkata kepada mereka, "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya, "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?" Kata-Nya kepada mereka, "Apakah itu?" Jawab mereka, "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret! Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati, dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Dan beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan bahwa Yesus hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Yesus sendiri tidak mereka lihat." Lalu Ia berkata kepada mereka, "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya akan segala sesuatu yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Sementara itu mereka mendekati kampung yang mereka tuju. Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Tetapi mereka mendesak-Nya dengan sangat, "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka, dan mereka pun mengenali Dia. Tetapi Yesus lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain, "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan, dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita? Lalu bangunlah mereka dan langsung kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid. Mereka sedang berkumpul bersama teman-teman mereka. Kata mereka kepada kedua murid itu, "Sungguh, Tuhan telah bangkit, dan telah menampakkan diri kepada Simon." Lalu kedua murid itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan, dan bagaimana mereka mengenali Yesus pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.


Kalender Orang Kudus